Minggu, 13 Desember 2015

Sejarah Benteng Otanaha to Hulondalo



Benteng Otanaha merupakan objek wisata yang terletak di atas bukit di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1522. Benteng Otanaha terletak di atas sebuah bukit, dan memiliki 4 buah tempat persinggahan dan 348 buah anak tangga ke puncak sampai ke lokasi benteng.
Jumlah anak tangga tidak sama untuk setiap persinggahan. Dari dasar ke tempat persinggahan I terdapat 52 anak tangga, ke persinggahan II terdapat 83 anak tangga, ke persinggahan III terdapat 53 anak tangga, dan ke persinggahan IV memiliki 89 anak tangga. Sementara ke area benteng terdapat 71 anak tangga, sehingga jumlah keseluruhan anak tangga yaitu 348.

 

Sejarah pembangunan Benteng

Pada sekitar abad ke 15 daratan gorontalo diduga masih sebagian besar diliputi oleh air laut. Ketika itu wilayah gorontalo sudah berbentuk kerajaan dibawah pimpinan raja ilato (matolodulakiki) bersama permaisurinya tolangohula (1505-1585). Keturunan mereka terdiri dari tiga orang anak, masing-masing, Ndoba (wanita), Tiliaya (wanita), dan Naha (pria).

Sewaktu berusia remaja, Naha pergi melanglang buana, sementara itu Ndoba dan Tiliaya tetap tinggal di wilayah kerajaan. Suatu ketika sebuah kapal layar Portugis singgah di Pelabuhan Gorontalo. Karena kehabisan bahan makanan, pengaruh cuaca buruk, dan gangguan bajak laut. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para nahkoda Portugis untuk bertemu dengan Raja Ilato yang merupakan penguasa Kerajaan Gorontalo.

Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan, bahwa untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negeri, akan dibangun atau didirikan tiga buah benteng di atas perbukitan Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat yang sekarang ini, yakni pada tahun 1525.

Ternyata, para nakhoda Portugis hanya memperalat Pasukan Ndoba dan Tiliaya ketika akan mengusir bajak laut yang sering menggangu nelayan di pantai. Seluruh rakyat dan pasukan Ndoba dan Tiliaya yang diperkuat para Apitalawo (kapten laut) masing-masing Apitalawo Lakoro, Apitalawo Laguna, Apitalawo Lakandjo, dan Apitalawo Djailani, bangkit dan mendesak bangsa Portugis untuk segera meninggalkan daratan Gorontalo. Para nakhkoda Portugis langsung meninggalkan Pelabuhan Gorontalo.
Pada tahun 1585, Naha kembali dari perantauan dan menemukan ketiga benteng. Ketika itu Naha memperistri seorang wanita bernama Ohihiya. Dari pasangan suami istri ini lahirlah dua orang putra yaitu Paha (Pahu), dan Limonu. Ketika terjadi perang melawan Hemuto (pimpinan rombongan transmigrasi), melalui jalur utara. Naha dan Pahu gugur melawan hemuto. Limonu menuntut balas atas kematian ayah dan kakaknya, dan berhasil membunuh dalam sebuah peperangan.Selama dalam peperangan, naha, ohihiya, pahu, dan limonu telah memanfaatkan ketiga benteng tersebut sebagai pusat kekuatan pertahanan sehingga dengan latar belakang ini, ketiga benteng ini diabadikan sebagai berikut.
1.    Otanaha : Ota  berarti benteng, dan Naha berarti orang yang menemukan benteng tersebut. Jadi Otanaha berarti benteng yang ditemukan oleh Naha.

                                                             










2.  Otahiya : Ota berarti benteng, dan Hiya akronim dari Ohihiya (isteri Naha). Jadi Otahihiya yaitu benteng milik Ohihiya.










3. Ulupahu : Ulu akronim dari kata Uwole (milik dari Pahu), dan Pahu, Pahu adalah putera Naha. Jadi Ulupahu berarti benteng milik Pahu (Paha) Putra Naha.












Terimakasih Atas Kunjungannya



 

Cara Mendownload File di 4shared 

Pastikan Anda sudah memiliki Akun di 4shared, Klu sobat belum mempunyai Akun 4shared sobat bisa melihat tutorial berikut kilk disini
Buka Url http://www.4shared.com/ terlebih dahulu kemudian masuk ke Akun sobat untuk dapat mendownload file yang sobat inginkan.
 kemudian klik download file drama korea 
setelah di download muncul tautan sperti gambar dibawah ini kemudian klik unduh untuk mendownload file yang kita inginkan

setelah itu muncul lagi tautan seperti gambar dibawah ini
klik UNDUH GRATIS dan tunggu sampai selesai
sekian cara mendownload file di 4shared.com

kunjungi Blog Saya disini  

Sejarah Museum Pendaratan Pesawat Ampibi Di Gorontalo
Museum Pendaratan Pesawat Ampibi Soekarno terletak di Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Lokasi berada tepat di tepi bagian selatan Danau Limboto, dan sekitar 2 kilometer dari Taman Purbakala Benteng Otanaha. Trayek angkot yang melintasi lokasi tersebut adalah jurusan Kota Gorontalo ke Kecamatan Batudaa, dan sebaliknya.
Awalnya, bangunan musem ini merupakan rumah yang dibangun semasa pemerintahan kolonial Belanda menguasai Gorontalo dengan ukuran 5 x 15 meter, dan diperkirakan dibangun pada tahun 1936.
Dahulu kala, Soekarno pernah menjejakkan kaki di Bumi Gorontalo pada tahun 1950 dan tahun 1956. Soekarno datang ke Gorontalo melalui jalur udara yang mendarat di Danau Limboto. Kedatangan pertamanya, ia menggunakan pesawat Ampibi. Lalu, saat kedatangan keduanya di tahun 1956 ia memakai pesawat Catalina. Soekarno datang bersama ajudannya dengan pilot bernama Wiweko Supono. Kala itu, pesawat Ampibi masih bisa mendarat dan berlabuh di Danau Limboto karena memang ketika itu, debit airnya masih memungkinkan hal itu dengan pantai pasir putihnya.
Menurut sejarawan Gorontalo, BJ Mahdang, mengatakan bahwa kedatangan Soekarno ke Gorontalo saat itu adalah untuk melakukan inspeksi guna meyakinkan bahwa Gorontalo masih tetap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada tahun-tahun itu, Indonesia sedang didera pemberontakan. Kelompok separatis Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) bergema di Sulawesi Utara. Soekarno hanya ingin memastikan, saat itu tidak terjadi perpecahan di Gorontalo kendati ada beberapa kelompok atau dewan yang ingin memisahkan diri dari NKRI.
Berangkat dari kisah tersebut, bangunan rumah mungil di tepi Danau Limboto ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya/Situs Rumah Pendaratan Soekarno oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Gorontalo. Rumah tersebut menjadi saksi kedatangan Soekarno di Gorontalo. Selanjutnya, pada 29 Juni 2002 rumah itu direnovasi dan diresmikan oleh Presiden RI yang kelima, Megawati Soekarnoputri, sebagai museum.
Museum Pendaratan Pesawat Ampibi didirikan untuk mengenang semangat juang Soekarno mempertahankan NKRI seperti yang tercantum dalam papan nama museum.